Friday, 28 January 2011

Mengembangkan Sikap Sosial anak

Pendidikan Anak Usia dini
mengembangkan sikap sosial anak,  Salah satu hal terpenting dalam perkembangan anak adalah perkembangan sosialnya. Pada hakekatnya sikap sosial merupakan syarat utama bagi penerimaan sosial pada masa kanak-kanak dan remaja yang dinyatakan oleh tingkah laku berulang-ulang terhadap obyek sosial ( gerungan, 2000).
Ahli phisikologi W.J.Thomas (dalam abu ahmadi : 1990 : 162) memberi batasan sikap sosial sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan nyata yang mungkin terjadi dalam kegiatan sosial yang diarahkan terhadap suatu obyek tertentu.
Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan taman kanak-kanak, sikap sosial yang harus dikembangkan diantaranya adalah : suka menolong teman dan orang dewasa, mau berbagi, mau mengalah, menghargai, tidak menggangu, mendengarkan dan memperhatikan teman bicara, dll. Sebagai guru kita memiliki tugas membina dan mengembangkan sikap anak didik kita menuju sikap yang kita harapkan salah satunya melalui media permainan.
Permainan adalah suatu kegiatan sukarela atau pekerjaan tetap dilaksanakan dalam batas waktu tertentu dan tempat, menurut aturan yang berlaku secara bebas tapi benar-benar mengikat, karena tujuannya dalam dirinya sendiri dan disertai dengan perasaan tegang, sukacita, dan kesadaran yang berbeda dari kehidupan biasa. (Huizinga, 1968)
Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya. Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki resiko. Ada resiko bagi anak untuk belajar misalnya naik sepeda sendiri, belajar meloncat. Unsur lain adalah pengulangan. Anak mengkonsolidasikan ketrampilannya yang harus diwujudkannya dalam berbagai permainan dengan nuansa yang berbeda. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman tambahan untuk melakukan aktivitas lain. Melalui permainan anak dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran misalnya bermain boneka diumpamakan sebagai adik yang sesungguhnya (Semiawan, 2002: 21).
Salah satu manfaat permainan adalah dapat mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak. Bermain dapat menjadi sarana anak untuk belajar menempatkan dirinya sebagai makhluk sosial. Dalam permainan anak berhadapan dengan berbagai karakter yang berbeda, sifat dan cara berbicara yang berbeda pula, sehingga ia dapat mulai mengenal heterogenitas dan mulai memahaminya sebagai unsur penting dalam permainan. Anak juga dapat mempelajari arti penting nilai keberhasilan pribadi dalam kelompok, serta belajar menghadapi ketakutan, penolakan, juga nilai baik dan buruk yang akan memperkaya pengalaman emosinya. Dengan kata lain, bermain membuat dunianya lebih berwarna, perasaan kesal, marah, kecewa, sedih, senang, bahagia akan secara komplit ia rasakan dalam permainan. Hal ini akan menjadi pengalaman emosional sekaligus belajar mencari solusi untuk menanggulangi perasaan-perasaan tersebut di kemudian hari. Selain itu permainan juga dapat digunakan untuk belajar memahami nilai memberi dan menerima. Bermain bersama teman sebanya bisa membuat anak belajar memberi dan berbagi, serta belajar memahami nilai take and give dalam kehidupannya sejak dini. Melalui permainan, nilai-nilai sedekah dalam bentuk sederhana bisa diterapkan.
Pendidikan Anak Usia dini
Menurut Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal Regional I Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal Regional Departemen Pendidikan Nasional Haris Iskandar, Senin (15/12) di Bandung. Beliau mengatakan bahwa dengan permainan tradisional anak-anak bisa mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Selain itu, permainan tradisional bisa juga dapat mengembangkan aspek pengembangan moral, nilai agama, sosial, bahasa, dan fungsi motorik.
Berikut ini merupakan contoh beberapa permainan yang dapat mengembangakan sosial anak :
a.              Bermain balok
Menyediakan balok-balok dengan berbagai ukuran dan bentuk ditambah aksesoris untuk melengkapi permainan balok. Balok disususun menurut bentuknya agar anak memilih dan mengenal pengelompokan balok berdasarkan bentuknya. Kemudian tiga sampai dengan empat anak menyusunya sesuai bentuk yang dikehendaki secara bersama-sama. Permainan ini dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi, kerjasama, saling meminjamkan balok, menghargai pendapat orang lain.

b.      Spons air
Membentuk kelompok yang setiap kelompok terdiri dari  tiga anak, kemudian guru menyiapkan bak air ditengah lapangan setiap kelompok diberikan 1 spon, 1 botol yang berukuran sama, dan 1 corong. Cara bermaian guru memberi aba-aba berupa hitungan, yang mana salah satu kelompok mengambil air dengan spon tersebut untuk ditempatkan pada botol yang telah disiapkan dengan corong hingga air dibotol penuh. Kemidian begitu setetrusnya bergantian dengan orang yang kedua dan orang yang ketiga. Permainan ini dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi, kerjasama, sabar menungu giliran (antre).
c.       Lintang Alian
Semua pemain berkumpul, kemudian diundi dengan cara hom pim pah dan ping sut untuk menentukan pemain yang harus mengejar ( jadi ). Misalkan A yang harus jadi, maka anak-anak yang lainnya segera berlari untuk mencari pasangan berdua-dua. Anak yang jadi mengejar salah seorang pemain yang masih sendirian karena belum mendapat pasangan.
Masing-masing pasangan ini harus tetap waspada karena sewaktu-waktu akan ada orang yang hingap “menclok”, sehingga salah satu dari mereka harus lari mencari pasangan, maka A harus segera lari menjauhi pemain tersebut untuk mencari pasangan atau menclok pada satu pasangan pemain lainnya. Demikian seterusnya, permainan dilanjutkan sampai para pemain bosan.
Permainan ini dapat mengembangkan kemampuan toleransi, mau mengalah, menolong teman, dan tidak membeda-bedakan teman.
 Pendidik hendaknya membimbing dan memimpin jalanya permainan itu agar jangan sampai menghambat perkembangan mereka. yang dibutuhkan anak bukan permainan yang bagus atau alat-alat permainan yang lengkap,  melainkan tempat dan kesempatan untuk bermain itu.
TAG:
Pendidikan Anak Usia dini ALA NABI, MENGEMBANGKAN KECERDASAN VISUAL , Kecerdasan yang Dimiliki Manusia , Cara Membentuk Anak Jenius , JURUS RAHASIA MENGHAFAL CEPAT, PENDIDIKAN MATEMATIKA DENGAN JARI, permaianan edukatif dalam perkembangan logic anak, MAINAN ANAK, mengembangkan bakat anak, Agar Disiplin Efektif, DISIPLIN MEMBUAT SI KECIL BAHAGIA

Mengembangkan Sikap Sosial anak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: sigit budiyanto

0 komentar:

Post a Comment