Saturday, 5 February 2011

DISIPLIN MEMBUAT SI KECIL BAHAGIA

DISIPLIN MEMBUAT SI KECIL BAHAGIA
 Sejak dini si kecil harus diperkenalkan pada aturan. Ini penting untuk penyesuaian dirinya kelak sebagai anggota masyarakat. Tapi, bagaimana caranya agar si kecil mematuhi disiplin?



"Saya cenderung sangat lentur dalam soal disiplin. Beda dengan suami saya.Dia banyak sekali menerapkan aturan pada anak kami. Padahal, anak kami masih kecil, baru 2 tahun. Kasihan, kan, jika dia terlalu banyak dilarang," ungkap Nadia, ibu seorang putri.
Para orang tua, terutama ibu, umumnya sulit bersikap tegas menghadapi si kecil. Apalagi jika si kecil sudah menunjukkan mimik wajah memelas, aduh, rasanya kasihan sekali. Jadi, deh, permintaan si kecil yang tadinya ditolak, akhirnya dikabulkan juga. Habis, enggak tega, sih.
Padahal, dengan ibu atau ayah bersikap demikian, sama juga mengajari anak untuk tak mematuhi aturan atau berdisiplin. Nah, jika kejadian ini sering terulang, si kecil tak akan tahu, mana yang sebenarnya boleh dan mana yang sebenarnya dilarang.
Apalagi jika si kecil diizinkan melakukan apapun yang ia ingin lakukan kala ia menginginkannya, ini lebih parah lagi. Kelak, ia akan mengalami kesulitan setelah memasuki lingkungan di luar rumah. Misalnya, sekolah. "Di sekolah, kan, ada aturan-aturan. Misalnya, mau masuk ke kelas harus berbaris dulu. Atau, di kelas ada saat di mana anak harus duduk tenang. Jika anak tak biasa disiplin, peraturan itu enggak mungkin bisa dia lakukan," terang psikolog Rahmitha P. Soendjojo.
Harus diingat, lanjut psikolog yang biasa dipanggil Mitha ini, mendisiplinkan anak bukan semata-mata agar anak berdisiplin dalam waktu seperti waktu makan, waktu tidur, dan lainnya. Tapi juga berdampak pada hal-hal lain dalam kehidupan, seperti menghargai orang lain. "Jika anak bisa duduk tenang di kelas, kan dia enggak mengganggu teman-temannya. Jika dia teratur, itu berarti dia belajar untuk bisa juga menghargai kepentingan orang lain. Dia tahu bagaimana adjustment, menyesuaikan diri di lingkungan itu," tuturnya.
Para ahli mengatakan, anak-anak yang dibesarkan dalam situasi di mana setiap orang diperbolehkan melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan kala mereka menginginkannya, umumnya tak akan disukai oleh orang-orang di luar rumahnya. Sebaliknya, anak-anak yang pada saat ini belajar untuk hidup berdasarkan peraturan, cenderung tumbuh menjadi anak yang lebih bahagia dan berkelakuan lebih baik.
Lantaran itu, mendisiplinkan anak harus dilakukan sejak sedini mungkin. Nah, usia batita merupakan usia yang tepat untuk mulai memperkenalkan anak pada disiplin. Sebab, terang Mitha, "Anak umur ini, kan, belum tahu mana yang benar dan salah, mana yang boleh dan tidak. Mereka juga belum dapat mengontrol dirinya. Jadi, orang tua harus memperkenalkannya dengan aturan."
PAKAI TAKTIK
Tapi tentunya tak gampang mendisiplinkan anak batita. Sebab, di usia ini, si kecil mulai mengembangkan kemandiriannya. Ia mulai mengenal, "Saya maunya ini," atau "Ini punyaku." Sehingga, ia berkecenderungan untuk menolak atau menunjukkan sikap bertolak belakang terhadap apa yang orang tua inginkan darinya.
Selain itu, anak usia ini sedang dalam tahap eksplorasi. Ia belajar tentang dunianya melalui eksperimen, pengamatan sebab-akibat, dan mencobai lingkungannya termasuk orang dewasa yang ada di lingkungan itu.
Tak heran jika anak usia ini kerap dikatakan "susah diatur". Tapi tak berarti si kecil tak bisa diatur atau dilatih berdisiplin. Hanya saja, seperti dikatakan Mitha, orang tua perlu taktik tertentu untuk mendisiplinkannya.
"Misalnya kita mau menerapkan jam tidur. Kita enggak bisa berharap, dia mau masuk ke kamarnya dan langsung tidur. Apalagi kalau dia belum mengantuk. Tapi tetap kita bawa ke kamar, lalu kita giring dia untuk memasuki satu aktivitas lain yang sifatnya untuk cooling down dia. Entah dengan membacakan buku cerita atau mendongeng, dan sebagainya. Dengan begitu, lama-lama dia akan tertidur juga," papar Mitha.
Jika si kecil menolak dan minta ke luar kamar lagi, menurut Mitha, tetap bisa diatasi. "Katakan dengan tegas tapi lembut, 'Sekarang bukan waktunya main.' Jika dia menjerit-jerit, gendong. Kalau kita gendong dia dengan sayang sambil kita beri tahu, 'Tidak. Mama ingin kamu tidak ke luar,' dia bisa merasakan, kok," tutur psikolog dari Data Informasi Anak - Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (DIA-YKAI) ini.
Yang penting, tegas Mitha, orang tua harus tetap konsisten dan konsekuen. "Jangan karena enggak tega, kita lalu membawa si anak ke luar kamar lagi," ujarnya. Memang, aku Mitha, pada mulanya terasa berat. Tapi jika orang tua tetap konsisten (jam 20:00 harus tidur, misalnya) dan konsekuen (anak tetap di dalam kamar apapun yang terjadi), lama-lama anak pun akan mengerti.
JANGAN ASAL MELARANG
Cara menyatakan aturan juga penting, karena akan menentukan berhasil-tidaknya disiplin. Jadi, jangan hanya memberikan aturan tapi juga dijelaskan mengapa aturan itu diadakan. Katakan pada si kecil, "Kamu harus tidur sekarang supaya besok kamu bisa punya banyak tenaga lagi untuk bermain." Atau, "Ini rak sepatu, tempat menyimpan sepatu. Jadi kalau kamu mau pakai sepatu, kamu tidak bingung lagi mencarinya."
Begitu pun dalam melarang anak. Jangan hanya mengatakan, "Pokoknya, kamu tidak boleh nonton TV lagi!". Tapi katakan, "Kamu tidak boleh nonton TV lagi karena sekarang waktunya tidur siang." Atau, "Kamu tidak boleh makan cokelat karena kamu sedang batuk." Contoh lain, "Kamu tidak boleh mencoret-coret tembok karena temboknya jadi kotor."
Aturan/larangan juga harus jelas bagi anak. Misalnya, "Kamu boleh main di luar rumah, asal tidak jauh-jauh." Aturan ini akan membuat anak bingung. "Tidak jauh-jauh"nya itu sampai di mana? Lagipula, anak usia ini belum dapat diminta untuk menentukan sendiri. Lebih baik katakan, "Kamu boleh main di luar rumah, tapi hanya sampai di depan pintu pagar halaman depan rumah kita."
Selain itu, kita juga perlu memberikan alternatif perbuatan atau tingkah laku yang bisa diterima sebagai gantinya. Mitha mengingatkan, kemampuan berpikir alternatif anak usia ini masih belum berkembang sempurna. Karena itu, terangnya, "Kita harus memberikan bantuan jalan kepada anak untuk melakukan hal lain yang kita setujui."
Jadi, bila kita melarang, "Kamu tidak boleh main ke rumah tetangga," misalnya; maka kita harus memberikan alternatifnya, "tapi kamu boleh minta temanmu main ke rumah kita." Contoh lain, "Kamu tidak boleh mencoret-coret di tembok, tapi kamu boleh mencoret-coret di atas kertas." Atau, "Kamu tidak boleh meninju kakakmu. Kalau kamu mau bertinju, maka kamu boleh meninju bantal."
Dengan memberikan alternatif, terang Mitha, anak jadi tahu dengan jelas tentang mana yang boleh dan tak boleh ia lakukan. "Kita pun jadi enggak menghambat perkembangan dia," katanya. Contoh, bila kita hanya melarang si kecil mencoret-coret di tembok sementara kita tak memberikan alternatif di mana ia boleh melakukannya, maka itu dapat menghambat perkembangan kreativitasnya.
Contoh lain, perkembangan emosi. Si kecil marah kepada kakaknya dan ingin melampiaskan kemarahannya dengan memukul si kakak. Nah, dengan memberikan alternatif seperti meninju bantal, maka ia dapat menyalurkan perasaannya itu.
JIKA AYAH-IBU BERBEDA
Yang tak kalah penting adalah sikap ayah-ibu dalam mendisiplinkan anak. Jangan sampai, ayah membolehkan sementara ibu melarang. "Jika ada perbedaan antara ayah-ibu atau selalu bertolak belakang, anak akan bingung. Selain itu, anak bisa mencari salah satu figur orang tua sebagai pelindung. Misalnya ia ingin sesuatu dan ia tahu ibunya tak akan membolehkan, maka ia akan 'lari' ke ayahnya yang pasti akan membolehkan," terang Mitha.
Perbedaan ini, tambah Mitha, juga akan membuat anak tak tahu aturan yang jelas itu seperti apa. "Ini, kan, bisa menimbulkan konflik dalam diri anak," tukasnya. Apalagi jika perbedaan itu kerap terjadi dan tak pernah dijembatani, lama-lama si kecil akan selalu timbul keraguan yang bisa terbawa sampai ia dewasa.
Ditambah lagi, tak ada pihak lain semisal keluarga besar yang mengarahkan si kecil. "Bukan tak mungkin si anak kelak menjadi tak tahu mana yang sebetulnya salah dan mana yang sebetulnya memang benar. Ada kemungkinan juga, nantinya ia berkembang menjadi orang yang tak mau mengakui kesalahannya meskipun ia tahu telah melakukan kesalahan," tutur Mitha.
Karena itu, Mitha menegaskan, ayah-ibu boleh saja berbeda, tapi untuk beberapa hal tertentu apalagi yang berkaitan dengan pendidikan anak, maka harus ada kesepakatan. Dengan demikian, anak bisa berkembang optimal serta memiliki kepribadian yang matang dan baik. 

TAG TERKAIT :

MENGAJARI DISIPLIN PADA ANAK
CARA MUDAH MENGAJARKAN DISIPLIN
KASIH SAYANG KUNCI DISIPLIN
MENGAJARKAN DISIPLIN DENGAN PENGASUH

DISIPLIN MEMBUAT SI KECIL BAHAGIA Rating: 4.5 Diposkan Oleh: sigit budiyanto

0 komentar:

Post a Comment