Sunday, 26 August 2012

PENDIDIKAN ANAK YANG BENAR

PENDIDIKAN ANAK YANG BENAR, Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.
Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.

PENDIDIKAN ANAK YANG BENAR, Menurut Dewey, pendidikan yang benar hanya akan muncul dengan menggali keunggulan-keunggulan anak yang timbul dari tuntutan situasi sosial di mana dia menemukan dirinya sendiri. Melalui tuntutan sosial ini anak dirangsang untuk mampu bertindak sebagai anggota suatu unit sosial tertentu. Beberapa pandangan Dewey tentang pendidikan dapat dirangkum sebagai berikut.
1) Insting dan potensi-potensi anak menjadi titik tolak untuk semua pendidikan.
2) Pendidikan adalah proses hidup itu sendiri dan bukan persiapan untuk hidup.

3) Sebagai lembaga sosial, sekolah harus menyajikan kehidupan nyata dan penting bagi anak sebagaimana yang terdapat di dalam rumah, di lingkungan sekitar, atau di lingkungan masyarakat luas. (Dewey dalam Krogh, 1994)

Relevansi pemikiran John Dewey pada pendidikan di Indoensia Pendidikan partisipatif, yaitu pendidikan yang dalam prosesnya menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam pendidikan.[8] Pola pendidikan partisipatif menuntut para peserta didik agar dapat melakukan pendidikan secara aktif. Bukan hanya pasif, mendengar, mengikuti, mentaati, dan mencontoh guru. Tanpa mengetahui apakah yang diikutinya baik atau buruk. Dalam pendidikan partisipatif seorang pendidik lebih berperan sebagai tenaga fasilitator, sedangkan keaktivan lebih dibebankan kepada peserta didik. Pendidikan partisipatif dapat diterapkan dengan cara mengaktifkan peserta didik pada proses pembelajaran yang berlangsung. Siswa dituntut untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional, keterampilan, kreatifitas. Dengan cara melibatkan siswa secara langsung ke dalam proses belajar. Sehingga nantinya peserta didik dapat secara mandiri mencari problem solving dari masalah yang ia hadapi.Model pendidikan partisipatif bertumpu pada nilai-nilai demokratis, pluralisme, dan kemerdekaan peserta didik. Dengan landasan nilai-nilai tersebut fungsi pendidik lebih sebagai falisitator yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk berekspresi, berdialog, dan berdiskusi.Kalau kita membandingkan antara konsep pendidikan John Dewey dengan kurikulum yang sekarang dialami, maka kita akan menemukan kesamaan, yaitu adanya kebebasan kepada para pendidik untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang ada. Tidak lagi tersentral separti pemerintahan Soeharto.Sekolah yang akan dihasilkan adalah sekolah yang sedikit mata pelajaran. Namun, itu berguna bagi masyarakat. Sebab, kadang pelajaran yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan masrakat yang ada. Sebenarnya di Indonesia sudah banyak sekolah seperti tersebut. Diantaranya; SMK dan STM.Dari segi gurunya, dengan menggunakan pendidikan partisipatif, maka guru bukan lagi sebagai sentral pengajaran. Akan tetapi fungsi guru lebih sebagai fasilitator, sehingga setiap siswa turut berpartisipaif dalam proses belajar. Dengan demikian maka seorang guru akan dapat membawa siswa menuju apa yang dicita-citakannya.

MARI KITA BANDINGKAN SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA VS AUSTRALIA

Mengapa Australia yang dulu nenek moyangnya berasal dari Tahanan Kriminal Inggris kini mampu masuk 10 negara Terbaik untuk tempat tinggal manusia & memiliki tingkat kriminalitas terendah di dunia….? (Melbourne terbaik).

Mengapa Indonesia yang dulu nenek moyangnya berasal dari orang-orang yang Santun, Ramah & Berbudi Pekerti Luhur, kini masuk dalam kelompok Negara Gagal Dunia, dengan tingkat Korupsi nomor 3 di dunia dengan tingkat kriminalitas yang sangat tinggi & moralitas yang sangat rendah…?
Ternyata semua itu bermuara pada Sistem Pendidikan dari Pemerintahnya.

Para Pendidik & Guru di Australia lebih khawatir jika anak-anak didik mereka tidak jujur, tidak mau mengantri dengan baik, tidak memiliki rasa empati & hormat pada orang lain & etika moral lainnya, ketimbang mereka tidak bisa membaca, menulis & berhitung.
Guru-guru di Australia lebih prihatin jika murid-murid mereka memiliki perilaku moral yang kurang baik daripada memiliki prestasi nilai akademik yang kurang baik.
Mengapa?
Karena menurut mereka untuk membuat anak mampu membaca, menulis & berhitung atau menaikkan nilai akademik, kita hanya perlu waktu 3 sampai 6 bulan saja untuk secara intensif mengajarkannya.
Tapi untuk mendidik perilaku moral seorang anak, kita membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk mengajarkannya.
Mengajarkan baca tulis, berhitung bisa diajarkan kapan saja, bahkan jika seandainya mereka sudah dewasa & tua sekalipun masih bisa dilakukan.
Sementara mengajarkan Etika Moral waktunya sangat terbatas, dimulai saat Balita & berakhir saat mereka Kuliah.
Selain itu untuk mengubah perilaku moral orang dewasa yang terlanjur rusak dan buruk, hampir sebagian besar orang tidak mampu melakukannya. 

PENDIDIKAN ANAK YANG BENAR Rating: 4.5 Diposkan Oleh: sigit budiyanto

0 komentar:

Post a Comment