Saturday, 15 September 2012

solusi broken home | dampak

solusi broken home | dampak, Pada umumnya, faktor-faktor pemicu yang menyebakan keluarga broken home adalah kesibukan kedua orang tua dimana ayah dan ibu bekerja untuk mencari nafkah sehingga kurangnya komunikasi antara anak dan orang tua. Orang tua berpikir anak hanya memerlukan materi, padahal hal yang paling penting yang di butuhkan seorang anak dari orang tua adalah perhatian dan kasih sayang. Broken home merupakan keadaan dimana tidak terjadinya hubungan yang baik antara orang tua dan anak sehingga menyebakan keluarga menjadi berantakan. 
Faktor pemicu lainnya antara lain pertengkaran orang tua yang terjadi karena ketidakcocokan yang biasanya berujung pada perceraian. Istilah “broken home” biasanya di gunakan bagi orang tua yang tidak peduli dengan situasi dan kondisi di rumah, keseharian maupun perkembangan anaknya.
solusi broken home | dampak, Fenomena broken home ini memang tidak dapat dianggap sepele atau bukan untuk diabaikan dan dibiarkan berlalu begitu saja.
Broken home dapat mengakibatkan, antara lain:
1.    Psychological disorder (Gangguan Psikologis).
Tidak dapat dipungkiri bahwa anak broken home akan mengalami gangguan secara psikologis. Meskipun kebutuhan fisiologi terpenuhi dengan baik, anak tidak akan berkembang dengan baik ketikan kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi. Anak broken home memiliki kecenderungan agresif, introvert, menolak untuk berkomitmen, labil, tempramen, emosional, sensitif, apatis, dan lain-lain.
2.    Academic problem (masalah akademik).
Faktor motivasi eksternal terbesar untuk anak adalah keluarga. Dan ketika keluarga mengalami disfungsional maka anak broken home akan cenderung menjadi pemalas dan memiliki motivasi berprestas yang rendah. Hal ini relevan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aji Baroto. Pengambilan data dilakukan dengan studi dokumentasi terhadap buku pribadi siswa dan penyebaran angket untuk mengungkap motivasi belajar siswa. Pengolahan data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu penyeleksian data, penyekoran serta analisis dengan cara mengelompokkan data dan menggunakan teknik uji t perbedaan dua rata-rata yang menghasilkan kesimpulan bahwa :
a.       Terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa berasal dari keluarga broken home dengan motivasi belajar siswa dari keluarga utuh.
b.      Motivasi belajar siswa dari keluarga broken home lebih rendah daripada motivasi belajar siswa dari keluarga utuh.
c.       Keadaan keluarga broken home memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap motivasi belajar siswa.
3.    Behavioral problem (perilaku menyimpang).
Anak broken home adalah anak yang memang kurang perhatian. Akibatnya anak memiliki self esteem dan self confident rendah, konsep dirinya pun negatif. Begitu di luar (rumah), anak semacam over kompensasi, mencari pengakuan dan penghargaan diri dari lingkungan sekitarnya, sehingga anak broken home memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku-perilaku menyimpang seperti bullying, memberontak, bersikap apatis terhadap lingkungan, bersikap destruktif  terhadap diri dan lingkungannya, misalnya dengan mulai merokok, minum minuman keras, judi, free sex (seks bebas). Mereka melakukan penyimpangan-penyimpangan tersebut tanpa pernah tahu apa yang baik dan yang buruk. Persis seperti seorang anak yang menangis dan butuh pelukan ibunya, tapi dia tidak mendapatkannya, oleh karena itu anak broken home akan berterimakasih kepada siapapun yang mau memeluknya, dan kadang wujud si ibu itu adalah ‘narkoba’ dan ’seks bebas’.
Untuk menyikapi fenomena broken home, terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh, diantaranya:
1.    Orang tua melakukan tindakan preventif, yaitu dengan:
a.    Menanamkan rasa disiplin
b.    Memberikan kasih sayang dari kedua orang tua serta pengawasan dan perlindungan terhadap anak
c.    Menjaga keintiman  keluarga.
d.    Memberikan pendidikan agama untuk meletakkan dasar moral yang baik dan berguna.
e.    Secara rutin melakukan rekreasi yang sehat sesuai dengan kebutuhan jiwa anak.
f.     Melakukan pengawasan atas lingkungan pergaulan anak sebaik-baiknya.
2.    Orang tua melakukan tindakan represif, yaitu dengan:
a.    Mengadakan introspeksi sepenuhnya akan kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan.
b.    Memahami sepenuhnya akan latar belakang daripada masalah kenakalan yang menimpa anaknya.
c.    Meminta bantuan para ahli (psikolog atau konselor) di dalam mengawasi perkembangan kehidupan anak, apabila dipandang perlu.
d.    Membuat catatan perkembangan pribadi anak sehari-hari.
Anak adalah aset yang berharga, generasi penerus bangsa yang memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan semua itu bergantung pada keluarga. Sudah selayaknya orang tua menyadari bahwa mereka memiliki kebutuhan yang tidak sebatas pada kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian orang tua. Meskipun ada beberapa anak broken home yang mempu bertahan dan tidak melakukan penyimpangan, namun orang tua hendaknya mampu mempertimbangkan kepentingan dan hak-hak anak ketika akan melakukan sesuatu. Broken home adalah permasalahan yang bersumber dari keluarga, oleh karena itu solusi terbaik untuk anak-anak tersebut bukanlah psikolog, guru dan ulama, melainkan orang tua yaitu ayah dan ibunya di rumah yang dapat berperan dan berfungsi selayaknya orang tua.

Tentunya kita harus tahu bahwa sebenarnya tidak ada orang yang menginginkan pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Jadi, jangan pernah menyalahkan orang tua atas segala sesuatu yang telah terjadi. Tidak kita pungkiri, broken home ataupun perceraian memang sangat menyakitkan.

“Saya sangat sedih dan frustrasi karena kedua orang tua saya sering bertengkar hingga suatu saat mereka memilih untuk bercerai. Ketika itu, saya sangat tidak setuju dengan keputusan mereka, tetapi mereka telah memilih perceraian sebagai jalan yang terbaik. Cukup lama saya berlarut dalam kesedihan hingga suatu saat saya sadar. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya. Saya mulai belajar hidup mandiri dan belajar untuk lebih dewasa dalam menghadapi masalah. Dari perceraian dan pengalaman kedua orang tua saya, saya belajar dari semua itu dan bertekad akan membangun sebuah keluarga yang harmonis dan tentunya mendidik anak saya dengan kasih sayang suatu saat nanti.” Lala (Contoh), 17tahun.

Pendapat di atas di kemukakan oleh anak korban perceraian kedua orang tua nya. Tidak kita pungkiri, perceraian biasanya memang berdampak buruk terhadap anak, tetapi tidak sedikit dari mereka yang berhasil bahkan sukses dengan latar belakang keluarga yang broken home. Jadi, keluarga yang broken home bukan merupakan alasan agar kita berhenti untuk berkarya, melainkan harus menjadi pemicu agar dapat menjadi lebih baik lagi. Perlu di ketahui, keluarga yang broken home ataupun perceraian orang tua bukanlah akhir dari segalanya. Setiap masalah yang terjadi pasti memiliki pelajaran berguna yang mungkin bisa kita petik manfaatnya. Dari sebuah keluarga yang broken home, seorang anak bisa belajar dari pengalaman pahit kedua orang tuanya sehingga kedepannya ia bisa menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi.

Berpikirlah positif bahwa sebuah perceraian tidak boleh di jadikan alasan sehingga kita terjerumus ke dalam sesuatu hal negatif yang tentunya akan merugikan kita di kemudian hari. Perceraian orang tua memang merupakan suatu masalah yang berat bagi keluarga, tetapi jangan pernah berlarut-larut dalam kesedihan. Bagaimanapun juga, hidup akan terus berjalan. Kehancuran dalam keluarga bukanlah kehancuran dalam segala aspek kehidupan. Anggaplah itu semua sebagai cobaan yang membuat kita menjadi lebih kuat, tabah, dan sabar dalam mengahadapi masalah.

berdoa lah
Biarkan cinta bersujud kepada Allah sehingga cinta menjadi tak bersyarat, kuat tangguh, tak lekang oleh waktu. justru Allah menguji kita melalui orang-orang yg kita cintai menyakiti, mengkhianati kita namun akhirnya kembali menyesal meminta bantuan kita kemudian kitapun memaafkan, menguatkan menolongnya. Itulah cinta, tak bersyarat apapun. Ada Ibu muda mengeluhkan perkawinannya yang terbilang muda sedang dihadapkan masalah. Semasa gadisnya adalah orang yang mendiam, merasa memiliki banyak kekurangan, berasal dari keluarga ‘broken home.’ Sampai kemudian mengenal seorang pemuda yang mampu membuatnya menjadi periang sampai kemudian menikah. Di awal perkawinan terasa indah, dengan dihiasi canda tawa bersama-sama. Namun semua itu perlahan menjadi berubah, ditengah kesibukan masing2 bekerja, jarang ada percakapan, apalagi sampai bercanda. Bukan karena cinta telah hilang tetapi lebih karena berhati-hati agar tidak melukai perasaan suami.
Terkadang suami melontarkan kata-kata kasar.  Dia sebagai istri takut salah ngomong atau menyinggung perasaan pasangan hidupnya. Pernah dulu sewaktu belum menikah, Ibu mertuanya mengingatkan agar bersabar karena suaminya adalah orang yang inconstant karena itu istri lebih memilih diam daripada berlarut2 dalam pertengkaran.  Sang istri mengerti maksud suami mengingatkan atau menasehati tetapi seringkali istri tersakiti hatinya oleh ucapan suami yang kasar. Disaat seperti itulah istri merasa bersalah berdosa karena telah membuat marah suami. Tak bisa memberikan support, tak bisa menjadi yang terbaik sebagai pendamping hidup bagi suaminya. “Ya Allah, Kenapa terasa berat menjalani hidup ini?” Jeritan hatinya.
Ditengah keterlukaan, perih dan kecewa. Keberserahan diri, membiarkan cintanya bersujud kepada Allah. Dalam kesendirian dia banyak berintropeksi diri, betapa dirinya jauh dari Allah. Ibadah sholat fardhu tidak pernah ditunaikan dengan baik, kehidupan rumah tangga kering kerontang dari tuntunan agama. Nikmat materi yang berlimpah tidak pernah disyukuri sehingga membuat terasa hambar didalam hidupnya. Perlahan mengokohkan imannya. Sholat fardhu dikerjakan dengan tertib. Kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan lebih mudah dilakukan. Pada satu kesempatan di Rumah Amalia juga berbagi dengan berharap Allah memberikan ketenteraman kebahagiaan pada keluarganya. Disaat cinta bersujud kepada Allah. Perangai suaminya mulai berubah. Cinta dan kasih sayang menjadi tumbuh dan berbuah. Kebahagiaan di dalam keluarga, pasangan suami istri itu menjadi kokoh mengarungi bahtera kehidupan dalam menghadapi badai gelombang kehidupan hanya dengan menyandarkan diri kepada Allah. Komunikasi, saling menyesuaikan diri dengan pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi, memaklumi memaafkan hanya akan hadir bila di dalam hati mereka ada keimanan pada Allah maka Allah melimpahkan keindahan dalam keluarganya.
“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, ‘Inna lillahii wa innaa ilaihi raajiuun’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk.”(QS. al-Baqarah : 155-157).

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►

BERITA BARU

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

statistic

Messaging And Chatting

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner