Friday, 11 March 2011

Setelah Tsunami Kini Nuklir Mengancam Jepang




foto

Tokyo, gedung Tokyo Tower setinggi 333 meter bergetar hebat. Penghuninya berhamburan keluar dari gedung menuju taman-taman kota. "Belum pernah saya merasakan getaran sekuat ini," kata Aya Nakamura, seorang pekerja di Tokyo, setelah gempa berkekuatan 8,9 pada skala Richter menghantam Negeri Matahari Terbit itu.

Gempa itu juga menimbulkan kebakaran di 14 lokasi di Tokyo dan satu tempat penyulingan minyak di Chiba. Kereta peluru Shinkansen dihentikan operasinya, begitu pula sistem transportasi bawah tanah dan bus-bus.

Alhasil, warga berduyun-duyun berjalan kaki ke rumah atau tinggal di kantor. "Saya belum bisa pulang kantor. Transportasi mandek semua," kata Rane Hafied, 40 tahun, warga Indonesia yang bekerja di Tokyo.

Tak lama berselang terjadi gempa susulan yang kencang. Enam di antaranya terjadi dalam waktu satu seperempat jam. Semuanya jauh lebih besar dari gempa yang menghantam Kota Christchurch di Selandia Baru, yakni 7,1 pada skala Richter.

Gempa susulan itu kemudian diikuti gelombang tsunami setinggi hampir 10 meter, yang menghantam Sendai, kota berpenduduk sejuta jiwa di pesisir Honshu, 400 kilometer sebelah timur laut Tokyo. Gelombang air pasang itu serta-merta menyapu lebih dari 300 rumah di Kota Ofunato.

Gelombang tsunami itu menyeret reruntuhan, pepohonan, dan kendaraan yang dilintasi. Mobil, truk, bus, dan lumpur menggenangi landasan di Bandar Udara Sendai. "Menyebabkan kerusakan parah yang meluas di wilayah timur laut Jepang," kata Perdana Menteri Naoto Kan dalam pidatonya di televisi.

Pemerintah Jepang juga mengumumkan kondisi darurat nuklir setelah bangunan turbin pembangkit nuklir Onagawa di Miyagi terbakar. Namun operator Tohoku Electric Power mengatakan tidak ada indikasi kebocoran radioaktif. Miyagi adalah satu daerah yang paling parah terkena tsunami.

Perdana Menteri Kan pun berjanji memimpin langsung tim evakuasi bencana ini. Kepala Sekretaris Kabinet Yukio Edano mengatakan pemerintah telah mengerahkan militer, pesawat, dan heli menuju wilayah yang terendam air. "Kami akan bekerja semaksimal mungkin," tuturnya.

Media massa setempat menaksir jumlah korban tewas akibat tsunami mencapai lebih dari 100 jiwa. "Ada sekitar 200-300 jenazah ditemukan di tepi pantai," demikian dilaporkan kantor berita Jiji Pers. Jumlah itu belum termasuk yang hilang. Sebelumnya, dilaporkan sebanyak 96 orang tewas akibat gempa.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan telah menugasi Duta Besar Indonesia di Jepang, M. Luthfi, untuk memantau warga Indonesia. Menurut catatan Kementerian Luar Negeri Indonesia, ada 31.517 warga Indonesia di Jepang.

Menurut Kementerian, dari jumlah itu, sebanyak 24 ribu orang berada di Tokyo dan 6.700 orang di Osaka. Warga Indonesia di Tokyo terdiri atas 14 ribu tenaga kerja, profesional hampir 2.000, anak buah kapal 3.150, dan mahasiswa 2.200 orang. "Kita bergerak secepat mungkin," kata Marty di Istana Presiden.

Indonesia juga bersiap-siap menghadapi ancaman tsunami, yang bergerak dari Jepang menuju Samudra Pasifik. Pusat Peringatan Tsunami Pasifik Amerika Serikat mengeluarkan peringatan ancaman tsunami di 20 negara di kawasan Asia dan Amerika.

Negara-negara itu antara lain Rusia, Taiwan, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, Fiji, Meksiko, Guatemala, El Salvador, Kosta Rika, Nikaragua, Panama, Honduras, Cile, Ekuador, Kolombia, dan Peru. Australia dan Selandia Baru sempat masuk daftar, tapi kemudian dicoret.

Pusat gempa yang terletak 400 kilometer ke arah timur laut Tokyo di Kota Sendai, pesisir Honshu, di kedalaman 20 kilometer ini merupakan salah satu yang terkuat di dunia dan yang terhebat di Jepang. Sejak 1900, Jepang mengalami 10 kali gempa dahsyat dan menelan ribuan korban jiwa, di antaranya gempa Kanto di Tokyo menewaskan 140 ribu orang pada 1923 dan gempa di Kobe pada 1995 yang menelan 65 ribu jiwa.

Setelah Tsunami Kini Nuklir Mengancam Jepang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: sigit budiyanto

0 komentar:

Post a Comment