Tuesday, 15 March 2011

kisah para korban tsunami jepang

 

SEORANG perempuan berusia 70 tahun ditemukan hidup, empat hari setelah gempa dan tsunami mengguncang Jepang. Juru bicara Dinas Pemadam Kebakaran Osaka, Jepang barat, Yuko Kotani, mengatakan, perempuan itu ditemukan di dalam rumahnya yang tersapu tsunami di Prefektur Iwate, Jepang timur laut. Para petugas penyelamat dari Osaka dikirim ke daerah itu untuk operasi penyelamatan.
Perempuan tersebut, namanya tidak disebutkan, sadar, tetapi menderita hipotermia dan sedang dirawat di rumah sakit. Berita penyelamatannya itu merupakan kabar menggembirakan di antara kisah-kisah sedih korban bencana. Dua hari sebelumnya, seorang pria berusia 60 tahun diselamatkan dari atap rumahnya yang terseret dan mengapung di laut. Hiromitsu Shinkawa ditemukan oleh kapal perusak Kementerian Pertahanan Jepang sekitar 15 kilometer dari pantai.
Rumah Shinkawa di kota Minami Soma, Prefektur Fukushima, tercabut dari fondasinya dan tersapu ke laut oleh arus balik tsunami. Dia terlihat melambai-lambaikan sepotong kain merah sambil berpegang erat pada reruntuhan rumahnya. Shinkawa mengatakan, tsunami menghantam saat dia dan istrinya kembali ke rumah untuk membawa beberapa harta benda setelah gempa. Istrinya tersapu dan hilang.
”Beberapa helikopter dan kapal lewat, tetapi melihat saya. Saya kira hari itu akan menjadi hari terakhir dalam hidup saya,” kata Shinkawa, dikutip oleh seorang juru bicara badan pertahanan. ”Saya lari setelah mendengar tsunami datang, tetapi kembali lagi untuk mengambil sesuatu dari rumah. Saya selamat karena berpegang erat pada atap rumah saya,” ujarnya lebih lanjut.
Shinkawa dilaporkan dalam kondisi baik setelah dibawa ke rumah sakit dengan helikopter.
Para lansia pun selamat
Kaori Ohashi juga selamat dari bencana alam gempa dan tsunami itu. Ohashi menyaksikan dengan kengerian saat gelombang lumpur penuh puing menghantam rumah-rumah dan meratakan ladang-ladang. Dia bergegas ke arah rumah perawatan lansia tempatnya bekerja.
Dia melihat mobil-mobil dan pengemudinya terlempar oleh arus air yang mengamuk itu. Korban-korban lain berpegang erat pada pohon-pohon sebelum tsunami menyeret mereka. ”Saya kira hidup saya selesai,” kata Ohashi saat menceritakan kisah dua malam yang mengerikan terperangkap di dalam panti dengan 15 tenaga staf dan 200 lansia setelah bencana hari Jumat lalu itu.
Ohashi (39), ibu dua anak, kini tinggal di sebuah sekolah di Sendai, ibu kota Prefektur Miyagi, bersama 400 pengungsi lainnya. Setiap kali gempa susulan mengguncang gedung, dia melompat untuk memeluk putrinya yang berusia dua tahun.
Hari Jumat, saat lantai satu dari panti itu dipenuhi air berwarna gelap, Ohashi dan rekan-rekan kerjanya berjuang membawa para lansia ke lantai dua dan tiga.
Ohashi dan rekan-rekannya terus sibuk mengurus para lansia itu, memberi mereka makan sedikit tuna kaleng dan sedikit roti dengan senter. Dalam gelap gulita, para tenaga staf membantu para lansia tidur di tikar.
”Kami dalam isolasi total. Kami takut meninggalkan panti karena tsunami dan gempa bisa sewaktu-waktu terjadi,” kata Ohashi yang kemudian bisa menghubungi putranya yang berusia 12 tahun lewat telepon seluler.
Hari Minggu, saat air sudah surut, sebuah tim penyelamat darurat tiba di rumah perawatan itu. Mereka membuka jalan bagi para lansia untuk menyelamatkan diri. Tak ada yang cedera.
Ohashi bertemu keluarganya di tempat penampungan di Sendai. ”Saya begitu gembira melihat putra dan putri saya. Saya tak punya kata-kata untuk mengungkapkannya. Saya begitu bahagia,” ungkapnya


Kisah Korban yang Selamat dari Hantaman Tsunami di Jepang - Selalu ada keajaiban dalam sebuahg musibah. Pun bencana tsunami yang memporak-porandakan kawasan Jepang bagian timur. Inilah kisah beberapa korban selamat dari bencana dahsyat itu.

Tsunami yang menyapu pesisir timur Pulau Honshu dan pulau lain di pantai Pasifik, Jepang, telah meninggalkan sejuta kisah sedih bagi para korban yang selamat. Setelah berjuang melawan air bah berkecepatan 800 kilometer per jam itu, bahkan ada yang terseret hingga sejauh 15 kilometer ke laut lepas, mereka berhasil ditemukan dalam kondisi selamat.

”Apakah saya sedang bermimpi? Saya merasa seperti dalam sebuah film fiksi,” kata Ichiro Sakamoto (50), warga Hitachi di Prefektur Ibaraki. ”Setiap kali saya mencoba mencubit pipi untuk memastikan apakah saya bermimpi atau tidak,” katanya.

Hitachi, seperti kota lain di Jepang, adalah kota modern. Siang itu, tidak lama setelah terjadi tsunami, Sakamoto merasa telah kehilangan kotanya. Ia seperti ”terlempar jauh” dari kehidupan nyata yang modern ke sebuah padang sampah dan lumpur yang amat luas. Kehidupan kota yang riuh telah berubah sepi hening. Tsunami telah melumat kehidupannya.

Kalau saja Sakamoto di Sendai, ibu kota Prefektur Miyagi, mungkin dia akan mengatakan, ini adalah mimpi buruk yang panjang. Di sini, sebuah pesawat terbang hancur terseret gelombang dan terdampar di sebuah kompleks perumahan yang juga telah hancur. Sebuah mobil bertengger di bubungan rumah. Sebuah kapal terempas sejauh belasan kilometer ke daratan.

Scott West, seorang aktivis kelautan, melukiskan dahsyatnya gelombang laut itu mirip kehancuran ”apokaliptik”. Seperti ditulis Agence France-Presse, West menuturkan bagaimana ia menyaksikan ganasnya sapuan tsunami, yang ia sebut ”dinding air hitam yang menderu-deru”.

Aktivis Sea Shepherd Conservation Society yang berbasis di AS itu sedang berada di kampung nelayan Otsuchi, Prefektur Iwate, salah satu daerah paling parah tersapu tsunami di Pulau Honshu, Jumat lalu. Ia sedang asyik ngobrol dengan beberapa nelayan. Sesaat setelah gempa dahsyat pukul 14.46 waktu setempat, tiba-tiba terdengar suara menderu keras.

Mereka melihat ”dinding laut hitam yang tinggi dan menderu hebat” sedang bergerak menuju daratan. Hanya dalam sekerlingan mata, dinding tembok dan rumah hilang diterjang air yang dengan cepat mengisi lembah-lembah dan celah-celah di tepi pantai di permukiman nelayan itu. Tanpa berpikir panjang, mereka pun lari sekencang-kencangnya menuju tempat yang agak tinggi.

Pada saat yang sama, kata West, guncangan gempa susulan yang cukup deras terjadi berkali-kali. Seorang wanita yang terseret air bah menjerit minta tolong. Di samping wanita, tsunami menyapu puluhan bangunan dan kendaraan. Orang-orang berteriak histeris ketika air nyaris menyentuh tumit mereka. Sebagian dari mereka akhirnya hanyut.

”Kemudian saya melihat sesosok mayat di pantai. Rumah, mobil, dan barang apa saja telah hancur, menyatu menjadi sampah yang bergulung-gulung diempas arus air,” ujarnya.

West mengatakan, Otsuchi sebenarnya kota pantai yang cukup besar. Daerah itu telah menjadi kota mati. Bencana gempa dan tsunami telah meninggalkan kerusakan dan kebakaran, tidak ada yang tersisa. ”Penderitaan warga yang selamat tidak terkira. Mereka terguncang hebat karena kehilangan harta benda dan orang-orang yang dicintai,” katanya sedih.

Wataru Fujimura (38), warga Miyagi, kehilangan rumahnya. Awalnya dia merasakan guncangan gempa yang kuat. ”Perabot rumah tangga berjatuhan. Dinding gedung apartemen kami retak. Jalanan terbelah. Sungguh mengerikan,” ujarnya seperti dikutip Associated Press.

Gulungan ombak menyapu rumah, perahu, mobil, sampah, dan puing-puing. Kotanya dalam sekejap berubah seperti kubangan rawa. Tak dijelaskan di mana apartemen milik pria itu. ”Kami menghabiskan sepanjang malam di dalam mobil,” ungkap pria itu dalam keadaan masih shock.

Terseret sejauh 15 km
Kisah lebih dramatis dituturkan Hiromitsu Shinkawa, kakek berusia 60 tahun, warga kota Minamisoma, Prefektur Miyagi, di wilayah Tohoku, Honshu, Jepang timur laut. Ia terseret sejauh 15 kilometer ke laut lepas. Namun, setelah dua hari, tepatnya hari Minggu, ia ditemukan dalam keadaan selamat dan sehat.

Shinkawa menuturkan bahwa hari Jumat, sesaat setelah gempa dahsyat yang diikuti banyak gempa susulan itu, ia mendengar gemuruh hebat dari arah laut. Ternyata gelombang tinggi bergerak cepat menuju daratan. ”Saya berusaha melarikan diri, keluar dari rumah, setelah mengetahui tsunami datang,” tutur Shinkawa kepada Jiji Press.

Setelah berhasil keluar rumah, Shinkawa malah balik lagi ke rumah untuk mengambil sesuatu. Pada saat itulah gelombang air bah menerjang rumahnya hingga roboh. Ia terseret jauh sesaat setelah meraih sepotong puing atas atap rumahnya. Meski terus terseret arus, di antara serakan puing-puing bangunan yang hanyut bersamanya, ia tetap berpegang kuat pada puing atap rumahnya itu.

”Saya selamat setelah meraih puing atap rumah saya,” katanya. Sebuah kapal penghancur milik Maritime Self-Defence Force yang menyusuri perairan laut di Prefektur Fukushima, mencari korban tsunami, menemukannya dalam kondisi sehat, Minggu pukul 12.40.

”Tak seorang pun berpikir tsunami sedahsyat ini,” kata Michiko Yamada (75), warga Rikuzentakata, desa yang bersih disapu tsunami di Iwate. ”Saya selamat, yang lain hanyut di depan saya,” katanya kepada Reuters. Keajaiban alam, yang oleh orang beragama disebut ”pertolongan Tuhan”, menyelamatkan mereka. (sumber: kompas.com) 

kisah para korban tsunami jepang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: sigit budiyanto

0 komentar:

Post a Comment